Yearbook for Traditional Music, 19, 1987
Link to this issue in JSTOR

Front Matter
Guest Editor's Preface, xi
Ricardo D. Trimillos
Editor's Preface, xii
Dieter Christensen
Obituary
Samuel Baud-Bovy 27 Nov. 1906 - 2 Nov. 1986, xiii-xiv
Barbara Krader
Improvisation in Wayang Wong Panggung: Creativity within Cultural Constraints, 1-11
Hardja Susilo
Abstract: Indonesian Summary. Sering-sering kita kagum apabila melihat pemain wayang wong panggung setiap malam dengan mudah berimprovisasi lesan. Sebetulnya setiap hari kitapun berkomunikasi lesan secara improvisatoris. Berbeda dengan improvisasi sehari-hari improvisasi di atas panggung tidak untuk kepentingan pihak-pihak yang berbicara (para pemain), tetapi untuk kepentingan pihak ketiga (para penonton). Demi kejelasan pesan yang ditujukan untuk pihak ketiga ini improvisasi di panggung harus runtut dan nalar. Improvisasi yang runtut dan nalar dalam wayang wong panggung dimungkinkan antara lain oleh adanya peraturan main yang berujud batasan-batasan yang harus dianut oleh semua pemain. Batasan-batasan ini terdiri dari batasan tempat, waktu, ceritera, peranan, bahasa, struktur drama dan krawitan. Improvisation atau improvisasi adalah istilah Barat. Dalam perbendaharaan kata-kata Jawa ada istilah kembangan, isen-isen, nggladrah, ngambang, sambang rapet, ngawur, dsb. Kalau dibahasainggriskan semua istilah-istilah tersebut adalah improvisation. Mungkin karena kekaguman terhadap modernisasi/kebudayaan Barat banyak pada waktu ini seniman-seniman muda yang lebih suka menggunakan istilah "improvisasi" untuk hal-hal di mana sebetulnya istilah-istilah Jawa memberikan pengartian yang lebih tepat.
Spontaneous Choreography: Improvisation in Polynesian Dance, 13-22
Adrienne L. Kaeppler
Time-Distance and Melodic Models in Improvisation among the Tausug of the Southern Philippines, 23-35
Ricardo D. Trimillos
Abstract: Summary. Each of the seven types differ in terms of the variables of model and time-distance. The nature of the model for each type varies. In Type 1 (free improvisation) the models consist of short melodic clusters, subunits of an entire realization of a performance. In actuality there is no realtime, complete model for this type. Thus the time-distance between the model(s) and the realtime performances varies widely. Perhaps the major criterion here would be the moment at which the specific model was acquired by a particular singer, when it became for that individual a perceived model. The performance may include subunit cluster models internalized very early in the singer's musical socialization as well as subunits acquired as recently as the preceding singer's performance. In Type 2 (named piece) improvisation uses a prescribed structural line, that although a proto-model, approaches a realtime mode in terms of its prescription--a sequence of melodic clusters, principal pitches, relative durations, and prescribed text. The time-distance from the model varies with each performer and its dependent upon when the piece was "learned." Thus all subunits of the proto-model occur at the same time-distance from the performance, a condition that does not necessarily apply in Type 1. In Type 3 (instantaneous replication) a realtime model is generated by the first singer only seconds before it is used by the second singer. Technically, the second singer does not improvise; she replicates. However her background in the tradition of improvisation aids her in the replication process, an indirect use of improvisation. In Type 4 (simultaneous improvisation of a second part) there is also an apparent realtime model--the principal melody. However, as already observed, the second part is more often based upon the structural line of the named piece. The time-distance from the realtime model, i.e., the performance by the principal singer, is atomic. In Type 5 (delayed replication) there is a realtime performance model. It is reinforced positively or negatively, depending upon the skill of each succeeding singer in a sequential process of successful or less successful replication. In this case there are two or more time-distances in operation: the first is the interval between the original performed model of the first singer and the performance (replication) under consideration, the others are the time-distances of all intervening replications. Both Type 6 (imbedding) and Type 7 (alternation of free improvisation and melodic material of a named piece) mix models with different components existing at different time-distances from the single, realtime performance event.
Jazz Style and Improvisation Codes, 37-43
Raymond F. Kennedy
Improvisation in Alapana Performance: A Comparative View of Raga Shankarabharana, 45-64
Gayathri Rajapur Kassebaum
Variation and Composition in Java, 65-95
R. Anderson Sutton
Abstract: Proses Variasi dan Proses Komposisi Di Jawa. oleh R. Anderson Sutton. Proses menggubah gendhing merupakan proses menyusun bahan dan pola dari gendhing-gendhing yang sudah ada. Proses ini bisa dikatakan proses variasi. Walaupun musik Barat pernah diciptakan dengan cara seperti ini pada jaman "medieval," proses ini sudah lama dianggap kurang kreatif di dalam kesenian Barat. Akan tetapi, komponis Jawa biasanya tidak mengutamakan yang serba baru dan tidak menilai jelek gendhingyang banyak persamaannya dengan gendhing yang lain. Sebagai contoh, kami menelusuri hubungan-hubungan antara bendhing yang terdiri dari banyak gatra yang sama (termasuk Ladrang Wilujeng, Sri Yatna; Ketawang Puspawarna, Mayar-mayar). Contoh lain diambil dari gendhing-gendhing yang lebih besar (kethuk 2 kerep, minggah 4) yang mempunyai satu kenongan (empat gatra) yang sama atau hampir sama. Kalau kita meneliti balungan bentuk "nibani," maka lebih banyak lagi gendhing yang mempunyai unsur yang sama. Dengan gendhing-gendhing tradisional ini, kita dapat contoh proses komposisi dalam tradisi lisan. Tradisi lisan tersebut, sebagaimana kita ketahui, biasanya tergantung kepada hafalan dan penggunaan rumus (cengkok). Ulangan/repetisi tidak menjadi masalah, melainkan memungkinkan. Pada masa ini komponis gendhing baru biasanya masih terikat kepada karawitan tradisional dan tidak meninggalkan pokok dari karawitan itu. Misalnya, Ki Nartosabdho (almarhum) dan Ki Wasitodipuro (sekarang Ki Wasitodiningrat) menciptakan banyak gendhing dolanan yang tidak jauh bedanya dengan dolanan lama. Hanya di sana-sini ada unsur baru. Bahkan, komposisi eksperimental oleh ahli-ahli karawitan dari ASKI Surakarta yang dianggap cukup berani (seperti Bp. Rahayu Supanggah dan Bp. Sri Hastanto) ternyata menggunakan banyak unsur dari karawitan tradisional. Walaupun pola bentuknya komposisinya sudah lain dari gendhing tradisional, sebetulnya mereka tidak mau merusak tradisi atau menyaingi karawitan tradisional. Sebaliknya, mereka tetap "kerasan" dalam dunia karawitan yang merupakan warisan nenek-moyong. Mereka ingin mencari "potensi musikal" nya saja. Kesimpulannya, kehidupan karawitan Jawa sejak dulu sampai sekarang tergantung kepada variasi yang tidak menuntut perubahan yang menyolok. Menggunakan bahan dan unsur yang telah ada di dalam gendhing lama merupakan cara yang wajar untuk menciptakan gendhing baru, baik dalam gendhing dolanan yang sangat disayangi rakyat, maupun dalam eksperimen dari ASKI yang dianggap cukup berani. Tujuan para komponis sekarang bukan menyaingi, melainkan melestarikan dan menyuburkan karawitan supaya tahan dan berkembang.
Abstract: Proses Variasi dan Proses Komposisi Di Jawa. oleh R. Anderson Sutton. Proses menggubah gendhing merupakan proses menyusun bahan dan pola dari gendhing-gendhing yang sudah ada. Proses ini bisa dikatakan proses variasi. Walaupun musik Barat pernah diciptakan dengan cara seperti ini pada jaman "medieval," proses ini sudah lama dianggap kurang kreatif di dalam kesenian Barat. Akan tetapi, komponis Jawa biasanya tidak mengutamakan yang serba baru dan tidak menilai jelek gendhingyang banyak persamaannya dengan gendhing yang lain. Sebagai contoh, kami menelusuri hubungan-hubungan antara bendhing yang terdiri dari banyak gatra yang sama (termasuk Ladrang Wilujeng, Sri Yatna; Ketawang Puspawarna, Mayar-mayar). Contoh lain diambil dari gendhing-gendhing yang lebih besar (kethuk 2 kerep, minggah 4) yang mempunyai satu kenongan (empat gatra) yang sama atau hampir sama. Kalau kita meneliti balungan bentuk "nibani," maka lebih banyak lagi gendhing yang mempunyai unsur yang sama. Dengan gendhing-gendhing tradisional ini, kita dapat contoh proses komposisi dalam tradisi lisan. Tradisi lisan tersebut, sebagaimana kita ketahui, biasanya tergantung kepada hafalan dan penggunaan rumus (cèngkok). Ulangan/repetisi tidak menjadi masalah, melainkan memungkinkan. Pada masa ini komponis gendhing baru biasanya masih terikat kepada karawitan tradisional dan tidak meninggalkan pokok dari karawitan itu. Misalnya, Ki Nartosabdho (almarhum) dan Ki Wasitodipuro (sekarang Ki Wasitodiningrat) menciptakan banyak gendhing dolanan yang tidak jauh bedanya dengan dolanan lama. Hanya di sana-sini ada unsur baru. Bahkan, komposisi eksperimental oleh ahli-ahli karawitan dari ASKI Surakarta yang dianggap cukup berani (seperti Bp. Rahayu Supanggah dan Bp. Sri Hastanto) ternyata menggunakan banyak unsur dari karawitan tradisional. Walaupun pola bentuknya komposisinya sudah lain dari gendhing tradisional, sebetulnya mereka tidak mau merusak tradisi atau menyaingi karawitan tradisional. Sebaliknya, mereka tetap "kerasan" dalam dunia karawitan yang merupakan warisan nenek-moyong. Mereka ingin mencari "potensi musikal" nya saja. Kesimpulannya, kehidupan karawitan Jawa sejak dulu sampai sekarang tergantung kepada variasi yang tidak menuntut perubahan yang menyolok. Menggunakan bahan dan unsur yang telah ada di dalam gendhing lama merupakan cara yang wajar untuk menciptakan gendhing baru, baik dalam gendhing dolanan yang sangat disayangi rakyat, maupun dalam eksperimen dari ASKI yang dianggap cukup berani. Tujuan para komponis sekarang bukan menyaingi, melainkan melestarikan dan menyuburkan karawitan supaya tahan dan berkembang.
Oral and Literate Strategies in Performances: The La Rose and La Marguerite Organizations in St. Lucia, 97-115
Jocelyne Guilbault
Book Reviews
----------------, 117-120
The Western Impact on World Music: Change, Adaptation, and Survival
Bruno Nettl
Review Author[s]: Margaret Kartomi
----------------, 120-121
Directory of Computer Assisted Research in Musicology 1986
Walter B. Hewlett, E. Selfridge-Field
Review Author[s]: Helmut Schaffrath
----------------, 121-123
Romanian Folk Music
Tiberiu Alexandru, Constantin Stihi-Boos
Review Author[s]: Barbara Krader
----------------, 123-125
Hungarian Ballads and the European Ballad Tradition
Lajos Vargyas
Review Author[s]: Ole Munch-Pedersen, Jens Henrik Koudal
----------------, 125-127
Essai sur la Chanson Populaire Grecque
Samuel Baud-Bovy
Review Author[s]: Christopher Scott, Markos P. Dragoumis
----------------, 127-128
Musique Traditionelle Sicilienne
Paul Collaer
Review Author[s]: Sergio Bonanzinga
----------------, 128-130
Music of the Billion: An Introduction to Chinese Musical Culture
Mingyue Liang
Review Author[s]: Nora Yeh
----------------, 130-132
Music and Dance of Indians and Mestizos in an Andean Valley of Peru
Elisabeth den Otter
Review Author[s]: Raul R. Romero
Briefly Mentioned
----------------, 133
Egil Bakka, Dag Vardal, Dag Vårdal, Tormod Lunde
Review Author[s]: A. S.
----------------, 133
K. E. Dunlay, D. L. Reich
Review Author[s]: A. S.
----------------, 133
Edith Fowke
Review Author[s]: A. S.
----------------, 133
Adrienne L. Kaeppler
Review Author[s]: A. S.
----------------, 133-134
Jens Henrik Koudal
Review Author[s]: A. S.
----------------, 134
Genevieve Lehr
Review Author[s]: A. S.
----------------, 134
Margaret MacDonnell
Review Author[s]: A. S.
----------------, 134
Sven Nyhus
Review Author[s]: A. S.
----------------, 134-135
Donal O'Sullivan, Micheal O Suilleabhain, Mícheál Ó Súilleabháin
Review Author[s]: A. S.
----------------, 135
Jeff Todd Titon
Review Author[s]: A. S.
----------------, 135
Gen'ichi Tsuge
Review Author[s]: A. S.
Record Reviews
----------------, 136-137
Sudan I
Robert Gottlieb, International Institute for Comparative Music Studies
Review Author[s]: Gerd Baumann
----------------, 137-138
Swiss Folk Music: Constantin Brailoiu Collection
Review Author[s]: Max Peter Baumann
----------------, 138-140
Tributo a Garoto
Radames Gnattali, Radamés Gnattali, Rafael Rabello
Patapio Silva
Patápio Silva
Altamiro Carrilho, Luizinho Eca, Luizinho Eça, Galo Preto
Joao Pernambuco: 100 anos
Joāo Pernambuco: 100 anos
Antonio Adolfo, No em pingo d'agua, Nó em pingo d'água
Sidney Miller
Alaide Costa, Alaíde Costa, Zeze Gonzaga, Zezé Gonzaga, Zeluiz, Zéluiz
Capiba: 80 anos
Orquestra de cordas dedilhadas de Pernambuco, Claudionor Germano, Martha, Expedito Baracho
Review Author[s]: Gerard Behague
----------------, 140-141
Viola Campanica: O Outro Alentejo
Viola Campaniça: O Outro Alentejo
Jose Alberto Sardinha, José Alberto Sardinha
Review Author[s]: Maria Clara Correia, Rosa Clara Neves
----------------, 141-142
Pizmon: Syrian-Jewish Religious and Social Song
Review Author[s]: Ruth Davis
----------------, 142-143
Canti liturgici popolari nel Ticino
Arnold Geering, Pietro Bianchi
Review Author[s]: Miriam Lockshin, Gottfried Habenicht
----------------, 143-144
Der Volksliedsanger und -forscher: Hanns in der Gand
Der Volksliedsȁnger und -forscher: Hanns in der Gand
Review Author[s]: Miriam Lockshin, Gottfried Habenicht
----------------, 144-145
Magyar nepzenei antologia II: Eszak/Anthology of Hungarian Folk Music: The North
Magyar nepzenei antologia II: Észak/Anthology of Hungarian Folk Music: The North
Review Author[s]: Miriam Lockshin, Gottfried Habenicht
----------------, 145-147
Samul-Nori: Drums and Voices of Korea
Musik aus Korea. Shinawi und Samulnori
Samul Nori
Suzanna M. Samstag
Samulnori
Review Author[s]: Keith Howard
----------------, 147-149
Musik aus der Turkei
Musik aus der Türkei
Kurt Reinhard, Max Peter Baumann, Eberhard Dietrich, Volker Reinhard
Review Author[s]: Irene Markoff
----------------, 149-150
Gondang Toba
Artur Simon
Review Author[s]: Lyn Moore
----------------, 150-151
Music of the Inuit: The Copper Eskimo Tradition (Canada)
J. F. Le Mouel, J. F. Le Mouël, M. Le Mouel, M. Le Mouël, International Institute for Comparative Music Studies
Review Author[s]: Jean-Jacques Nattiez, Nicole Beaudry
----------------, 151-152
Vietnam II: Court Theatre Music. hat-boi. Vietnamese Theatre, (Southern Tradition)
Vietnam II: Court Theatre Music. hat-bôi. Vietnamese Theatre, (Southern Tradition)
Tran Van Khe, Trân Van Khê, International Institute of Comparative Music Studies
Review Author[s]: Phong Th. Nguyen
----------------, 152-154
Documentario Sonoro do Folclore Brasileiro
Documentário Sonoro do Folclore Brasileiro
Review Author[s]: Salwa El-Shawan Castelo-Branco, Tiago De Oliveira Pinto
----------------, 154-156
Ancient Music of Bali "Semar Pegulingan. Gambuh"
Francois-Bernard Mache, François-Bernard Mâche
Review Author[s]: Tilman Seebass
----------------, 156-157
Java: Music of the Theatre
International Institute for Comparative Music Studies
Review Author[s]: R. Anderson Sutton
----------------, 158
Musik aus Pakistan: Khyal und Tarana
Musik aus Pakistan: Khyal und Tāranā
Review Author[s]: Laxmi G. Tewari
----------------, 159-160
China
International Institute for Comparative Music Studies
Review Author[s]: Bell Yung
Audio Report
The Canadian Broadcasting Corporation and Native Music Records, 161-165
Review Author[s]: Beverley Cavanagh
ICTM Reports
9th Meeting of the ICTM Study Group on Folk Musical Instruments, Orta San Giulio, Italy, 10-15 September, 1986, 166-168
Christian Kaden
6th ICTM Colloquium, "Crosscultural Processes. The Role of Portugal in the World's Music since the 15th Century" Lisbon, December 15-19, 1986, 168-170
Rui Vieira Nery, Anthony Seeger
Country Report
The Development of Ethnomusicology in the German Democratic Republic. An Overview, 171-186
Andreas Michel
Corrigendum, 187
Back Matter